Selasa, 11 Oktober 2011

Renungan : Life is Begins at Forty?


Life begin at 40 !… masa si?
Banyak orang menyakini jika usia 40 tahun adalah fase titik balik keberhasilan seseorang…. ehmm… ini tentu ide orang seberang sana.. yang jelas tolok ukur mereka melihat dan memakai indikator sisi materialistis .
Indikasi pencapaian kebahagian dan keberhasilan biasa dilihat dari pendapatan yang sudah mencukupi, jabatan sudah dicapai , keluarga yang lengkap dan hepi. Trus bagaimana dengan seseorang yang dianggap belum sukses secara material yang menyangkut karier, harta benda atau jodoh yang dimiliki?? Mereka dianggap gagal? Akan susah sepanjang waktu…. ? kayaknya jadi gak logis ya analisanya ya…?
Pemahaman Life begin at 40 juga terkadang menimbulkan seseorang menjadi terobsesi dengan ” kekuatan semu”, sehingga menghancurkan hubungan dengan pasangan..ho ho.. Puber maksudnya// hehe
Jadi ..?
Yang pasti ini bukan kebetulan, ketika timbul pertanyaan mengapa usia 40 tahun dianggap sebagai patokan perubahan fase.
Pagi tadi mendengarkan kultum dari seorang sahabat…
Kebetulan menyoal tentang usia 40 tahun. Byuh byuh…. Bukankah tahun ini aku bakal memasuki usia ini??
Materi yang disampaikan jelas sangat mengena.Karena sejak bulan lalu situasiku bener-bener sedang di uji ketika peranan sebagai ” orangtua yang masih memiliki orang tua” menjadi topik utama :p
… ehmm peranan yang ternyata tidak mudah… hingga memaksaku menguras tenaga dan fikiran untuk menjadi sosok yang dewasa dan bijak .
Kendala interaksi verbal yaitu berbeda pendapat atau berbeda cara penyampaian dan penyerapan suatu masalah terkadang membuat kita harus pandai memilah kata agar tidak menyakiti pihak orangtua…
Subhanallah.. hal ini sempat membuatku terhenyak… woow… perbedaan orientasi, cara pandang dan latar belakang dalam memandang suatu topik menjadikan suatu hal sangat sulit diurai… . ya begitulah…. :(
Fuihh.. faktor usia yang semakin bertambah terkadang membuat seseorang mudah teraduk aduk emosi dan kembali seperti anak kecil…. dan semestinya pihak yang lebih muda bisa dengan berbesar hati menjadikannya sebagai ladang amal… someday..kita akan menjadi seperti mereka bukan??
Semoga selalu saling bisa menjaga suasana ya… bagaimana yang tidak?? Duh duh….
Jadi inget ni dengan beberapa cerita teman;
Ada yang kesulitan mengatur berbagi waktu dan perhatian antara keluarga dan orangtua yang berjauhan tinggalnya;
Dilema ketika harus mengiyakan,saat mendengar berita sang bapak memiliki keinginan menikah lagi tetapi calonnya tidak sreg dihati anak-anaknya karena alasan tertentu;
Bagaimana sulitnya memberi masukan yang berkaitan dengan urusan kesehatan, orangtua maunya abcd sedangkan si anak maunya efgh…. fuihh !!
Belum lagi banyak cerita bagaimana menghadapi orangtua yang terasa sulit mengendalikan hawa nafsunya dalam banyak hal karena memang diyakini diusia tertentu akan kembali seperti bayi lagi 
Duh … bagaimana ya agar kita bisa bersikap yang seharusnya , selayaknya dan sesuai ? Berpikir positif, dewasa dan bijaksana… ! ideal sekali euyy !
Jadi mengerti mengapa Allah menurunkan ayat ini ;
Surat Al Ahqaf [46] ayat 15 Allah berfirman:
”Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Mengapa usia 40 tahun?
Tentu kita ingat bukan, bahwa Rosulullah SAW dan kebanyakan nabi lainnya diangkat menjadi rosul memang tepat diusia 40 tahun? Sunatullah ini rasanya cukup mewakili dan menjawab rasa penasaran.
Dan harus diakui bahwa pada usia 40 tahun seseorang sedang mengalami perubahan alami secara fisik, emosi dan spiritual. Ada satu penelitian menyebutkan pada usia 40 tahun adalah awal seseorang mengalami penurunan secara alami pada kelalaian, daya ingat , konsentrasi dan fokus walau tidak berpengaruh terhadap kepandaian yang dimiliki.
Balik lagi ayat tadi,
Disana jelas sekali membantah tentang pemahaman” life begin at 40” yang terfokus pada hitungan material .
Usia 40 tahun menjadi momentum kita untuk melihat ayat ini sebagai ” peringatan “ Allah SWT agar kita menyikapi segala perubahan dengan tidak lagi terfokus memikirkan masalah duniawi saja.
Allah mengajak kita untuk menyikapi perubahan diri dengan melakukan pembenahan dan perubahan agar kecenderungan negatif yang ada pada diri hilang.
Perubahan adalah pilihan bukan?
Fokus pada membalas kasihsayang dan kebaikan orang tua selain sebagai kewajiban , Allah juga menguji kesiapan mental kita karena kelak kita akan berada diposisi yang sama dengan mereka. Sehingga bisa mengambil banyak pelajaran disana.
Jalan keluarnya adalah :
”Dalam ayat tersebut setidaknya terdapat empat indikator kemuliaan manusia yang seharusnya menjadi identitas orang yang mencapai umur 40 tahun yaitu bersyukur, beramal shalih, bertaubat, dan berserah diri.
Bersyukur karena Allah telah memberi karunia umur hingga mencapai angka 40 dengan segala berkah dan rahmatNya.
Beramal shaleh untuk memiliki bekal kelak di hari akhir.
Bertobat disertai kesadaran bahwa manusia mempunyai kalbu yang berbolak-balik antara tarikan kebaikan dan keburukan.
Imam Al Gazali :”Sesiapa yang mencapai umur 40 tahun dan dosanya lebih berat dari amal baiknya maka bersiaplah memasuki neraka.”
Berserah diri, awal yang pas untuk menapaki usia 40 tahun. Usia 40 tahun berarti jatah usia kita sudah berkurang.
Selanjutnya…
Bagaimana jika kita memikirkan Surah Al Ashr ? Surat ini menawarkan kesadaran betapa tiap detik waktu kita di bumi berharga. Mengajak kita untuk tidak menjadi sosok yang merugi dan mengingatkan kita bahwa waktu yang kita miliki sangat sedikit….
Wallahualam bishawab..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar