Sabtu, 15 Oktober 2011

Keluargaku Surgaku!



Baiti Jannati, begitu Rasulullah mengilustrasikan kehidupan rumah tangga beliau yang penuh dengan keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan, sakinahmawaddah, dan rahmah. Rumah tangga yang dibangun bukan atas pondasi syahwat terhadap kecantikan, harta, pangkat, jabatan serta pesona hiasan dunia lainnya. Tapi sebuah keluarga yang dibangun karena ketaatan dan mengharap keridho’an kepada Allah. Dan sampai akhir zaman keluarga beliau merupakan rujukan utama bagi mereka yang mendambakan syurga dunia. 
Sejak 11 tahun lalu kami berusaha membangun sebuah keluarga, tentu jauh dari kehidupan beliau, tapi paling tidak landasan cinta, sayang, saling mengasihi, saling mempercayai kami letakkan menjadi pondasi dalam kehidupan keluarga kami
Keluargaku Syurgaku??? Yaaa surga duniaku ada pada mereka, saat mereka, istri dan anak-anakku menagih tanggungjawabku sebagai kepala keluarga, anak2 memintaku bermain raket, saat si kecil memintaku mengajari iqro, saat mereka memintaku jalan-jalan setelah senin sampai jumat hampir tidak pernah ketemu karena ayahnya berangkat gelap pulang gelap dan mereka masih dalam kondisi tidur. Surgaku adalah saat melihat anak2 ku terlelap dan memeluk guling... mungkin capek setelah seharian bermain, capek setelah jadwal sekolah yang padat atau bahkan capek menunggu dan berharap ayahnya datang saat mereka belum tidur... memang mamanya (istriku) sangat disiplin dalam hal penerapan jam tidur dan jam aktivitas lainnya. Sehingga saat mereka merengek ingin tungguin ayahnya pulang kantorpun tidak kesampaian. 
Keluargaku Surgaku saat istriku, ditengah rasa jenuh atas rutinitasnya, ditengah rasa lelah atas kegiatan yang nonstop pagi sampai malam, mulai dari menyiapkan bekal makan siangku sambil menyiapkan sarapan buata anak2ku, ditengah harapan agar memliliki ekonomi yang lebih baik ... dia memiliki pemahaman yang luar biasa, dia menunjukkan rasa syukur dan senantiasa berusaha memberikan perhatian terbaik buat suaminya.... 
Syurga duniaku adalah saat kami saling memahami betul kewajiban masing-masing untuk saling berbagi, mengokohkan kelebihan, dan menutupi segala kekurangan masing-masing. Memiliki keikhlasan hati, untuk dapat menerima pasangan apa adanya, baik itu fisik, intelektual, ekonomi, keturunan, dan sebagainya. Karena suaminya bukanlah Muhammad SAW yang begitu sempurna, Yusuf yang begitu memikat, Umar bin Khatab yang gagah perkasa, Mush’ab Bin Umair pemuda yang cerdas, Salman Al-farisi yang ahli strategi, Utsman bin Affan dan Abdurahman Bin ‘Auf saudagar kaya yang ahli shadaqah. Dan istinyapun menyadari bahwa dia bukanlah Khadijah yang luar biasa penyayang dan sangat penyabar, Aisyah seorang mujtahidah yang cendikiawan, Fatimah yang tabah dan putri seorang pemimpin besar, Ratu Balqis yang cantik jelita, Asma binti Yazid yang kritis dan cerdas, Hafshah binti Umar yang ahli ibadah.
Tentu manuasi-manusia mulia tersebut menjadi ispirasi kami..... dan kami hanyalah manusia biasa, yang berusaha memadukan dua unsur menjadi sebuah kekuatan, yang dengannya kami mengharapkan keridho’an dari Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, sumber investasi abadi, serta meneguhkan langkah dalam menjalani kehidupan sesuai aturan Allah.
Family : Joko, Heni, Adin, Shafa
Bagi kami… Pasangan adalah ibarat pakaian kita. Siapapun orangnya tidak ingin pakaiannya kumuh dan lusuh. Semua pastilah meinginkan pakaiannya nyaman, tidak kebesaran, tidak pula kekecilan. Kehati-hatian saat memilih dan membelinya merupakan indikator mendapatkan pakaian yang baik. 
Begitupun kepada wanita, hendaklah ia memilih laki-laki yang baik pemahaman agamanya (laki-laki sholeh), yang hatinya tertaut pada rumah Allah, yang malam-malamnya diisi dengan tahajud dan membaca al-qur’an, yang siang harinya dihiasi dengan dakwah, yang dalam pikirannya terpeta semangat memajukan Islam, mempunyai visi dan misi yang jelas dalam membangun keluarga, memiliki wibawa dihadapan istri dan anak-anaknya, menyenangkan hati isteri dan anak-anaknya, memiliki tanggung jawab memberi nafkah, tidak saja batin, tapi juga lahir, termasuk di dalamnya mengajarkan ilmu.
Adib, Shafa
Tapi apakah kami sudah mampu menjalankan peran kami masing-masing seperti gambaran tersebut?? tentu saja belum sesempurna itu.... kami tentu terus berupaya
Adib Naufal Atho'ullah (Lahir, 8 Desember 2003). Jagoan kami. meskipun tidak terlalu rajin belajar, di sekolah senantiasa mendapatkan ranking 3 besar. Sangat menyukai balapan F1 dan Motor GP. Saat saya berada di luar kota dan saat itu ada gelaran F1... kami nonton bersama secara jarak jauh... sambil nonton tv kami (adib dan saya) online telepon ngobrolin balapan yang sedang berlangsung. 
Nasywa Shafa Azzarha (Lahir, 15 Februari 2007). Bidadari kami. Cerdas dan kritis. Kadang judes juga. yang kami heran, mama dan ayahnya adalah profil yang pendiam sementara shafa adalah anak yang ceriwis... hampir2 nggak pernah kehabisan bahan obrolan. Saat mudik lebaran (Jakarta-Madiun) dia adalah teman ngobrol saya yang menjadi sopir... dialah yang membuat saya tidak mengantuk selama perjalanan oleh obrolan2 dia.... dia sangat berbakat bernyanyi dan menari.... 
Liburan : karaoke
Dan Heni Damayanti, wanita yang saya nikahi 24 September 2000, adalah wanita sempurna yang mengisi hidupku. Memiliki ketulusan tiada tara, kesetiaan yang teruji dan talenta yang luar biasa dalam membesarkan anak2 kami. Dulu memang dia jatuh cinta atas kedasyatan rayuanku ... melalui puisi-puisi cintaku yang membuat dia mabuk kepayang. Tapi saya yakin dia mengambil keputusan yang tepat, karena sejuta puisi dan kata2 rayuanku terbukti dalam kehidupan dia. 
Begitu sekelumit cerita mengenai Surgaku keluargaku..... Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan dan lindungan kepada kami semua, sehingga amanah dagi kami membangun rumah tangga ini bisa kami emban dengan baik.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar